Surat dalam Saku Kemeja
"Di-la-rang. Par-kir. Di. De-pan. Pa-gar." Bu Warsih berhenti di tengah jalan gang, menunjuk papan seng yang dipaku di pagar rumah Pak RT, dan menoleh kepada anaknya dengan wajah bangga. "Nduk! Dilarang parkir di depan pagar!"
"Iya, Bu," kata Ratri, menahan tawa. "Tapi Ibu berdirinya di depan pagar. Itu motor Pak RT mau keluar."
Bu Warsih melompat minggir. Pak RT, yang sudah menunggu di atas motornya dengan helm terpasang, mengangguk sopan dan sedikit bingung.
Sudah enam minggu sejak pembagian rapor, dan sejak itu Bu Warsih membaca segalanya. Papan nama toko. Bungkus sabun colek. Tulisan di bak truk pasir yang lewat di jalan raya, yang kadang membuat Ratri harus cepat-cepat menarik tangan ibunya sebelum ia membaca keras-keras kalimat yang tidak pantas. Ia membaca kalender di dinding warung, merek di karung beras, dan tulisan di kaus orang yang lewat di depan rumah.
"Ibu kayak anak kelas satu," kata Ratri suatu malam.
"Ibu memang kelas satu," jawab ibunya serius. "Kamu gurunya. Jangan galak-galak."
Ratri pura-pura cemberut. Tapi diam-diam ia mulai menyimpan setiap kertas latihan ibunya di dalam map plastik bekas rapor, berurutan menurut tanggal, seperti guru yang menyimpan hasil ulangan murid kesayangannya. Huruf-huruf di lembar pertama gemetar dan bengkok. Di lembar terakhir, hurufnya sudah mulai berani berdiri tegak.
Malam-malam mereka berubah.
Setelah cucian dilipat, Ratri mengeluarkan buku tulis bergaris dan mereka duduk berdua di bawah lampu bohlam yang berkedip. Ratri membuat soal. Ibunya mengerjakan. Kadang mereka bertukar: Bu Warsih menunjuk kata di nota pelanggan, Ratri harus menebak apakah ibunya membacanya dengan benar.
Ada kata-kata yang membuat Bu Warsih tertawa sampai keluar air mata. Kutang, yang ditulis Bu Novi dengan huruf besar di catatan cucian. Celana dalam bapak jangan dicampur, dari keluarga Pak Haryo. Dan ada kata-kata yang membuatnya diam lama.
Seperti malam ketika ia akhirnya bisa membaca buku tabungan miliknya sendiri, buku kecil bersampul hijau dari bank di dekat alun-alun, yang selama sebelas tahun selalu ia sodorkan kepada teller tanpa tahu apa yang tertulis di dalamnya.
Ia membaca angka terakhirnya pelan-pelan, digit demi digit, dengan jari yang menunjuk.
"Segini, Nduk?"
"Segitu, Bu."
Bu Warsih menutup buku itu dan memeluknya ke dada. Ratri tidak tahu apakah ibunya sedih karena angkanya kecil, atau bahagia karena akhirnya bisa membacanya sendiri. Mungkin dua-duanya.
Hari Kamis, sepulang sekolah, Ratri mendapati ibunya duduk di lantai ruang depan, di antara keranjang-keranjang yang belum terisi.
Biasanya pada jam segitu Bu Warsih sedang menjemur gelombang cucian kedua. Biasanya halaman penuh suara sprei yang dikibas dan jepitan baju yang berdecit. Hari itu halaman sunyi. Tali jemuran hanya digantungi separuh.
Di tangan ibunya ada selembar kertas yang terlipat empat.
"Bu?"
"Ini ada di saku kemeja Dokter Anton," kata Bu Warsih tanpa mengangkat kepala. "Kemeja putih. Yang tidak boleh diperas."
Ratri duduk di sampingnya. Kertas itu bukan nota biasa. Kertasnya tebal, putih, dicetak dengan kop surat klinik. Di bawahnya ada tulisan tangan istri Dokter Anton, rapi dan sopan.
"Ibu sudah baca?" tanya Ratri pelan.
"Sudah. Sendiri." Suara ibunya datar. "Ibu baca tiga kali, takut salah. Tapi tidak salah."
Ratri mengambil kertas itu dan membacanya.
Bu Warsih yang baik, terima kasih atas bantuan Ibu selama empat tahun ini. Mulai bulan depan kami mencoba laundry kiloan di ruko dekat jalan raya, karena lebih cepat dan bisa diantar-jemput. Semoga Ibu sehat selalu. Gaji bulan ini kami lebihkan sedikit sebagai tanda terima kasih.
Ratri membacanya dua kali, dan tiba-tiba ia mengerti mengapa wajah ibunya seperti itu. Bukan hanya karena kehilangan satu pelanggan.
Ini surat pertama yang dibaca ibunya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Huruf demi huruf. Dan surat pertama itu adalah surat perpisahan.
"Bu Novi juga," kata Bu Warsih. "Tadi pagi dia bilang langsung. Katanya di ruko itu sehari jadi, wangi, dilipat pakai plastik. Murah lagi. Dihitung per kilo."
Dua dari enam. Ratri menghitung di kepalanya, cepat, seperti soal cerita di buku matematika. Sepertiga penghasilan ibunya hilang dalam satu hari.
"Nanti ada pelanggan baru, Bu."
"Iya, Nduk." Bu Warsih tersenyum, lalu berdiri dan menepuk-nepuk dasternya yang berdebu. "Ibu jemur dulu. Yang sisa ini harus kering sebelum asar."
Ia berjalan ke halaman. Ratri memperhatikan punggung ibunya di antara tali-tali jemuran yang setengah kosong, dan untuk pertama kalinya ia berharap ibunya tidak pernah belajar membaca. Setidaknya tidak minggu ini. Setidaknya tidak surat itu.
Hari Sabtu, Ratri pergi sendiri ke jalan raya. Ia bilang kepada ibunya mau ke rumah teman. Itu tidak sepenuhnya bohong.
Ruko itu baru, catnya masih cerah, dengan papan nama besar berwarna biru muda yang lampunya menyala meskipun siang: WANGI KILAT LAUNDRY KILOAN. SEHARI JADI. ANTAR JEMPUT GRATIS. Dari balik kaca, Ratri bisa melihat empat mesin cuci besar berputar bersamaan, berderet seperti kepala-kepala bundar yang sedang berpikir. Ada mesin pengering. Ada meja setrika panjang. Ada rak-rak penuh bungkusan plastik bening yang rapi, masing-masing dengan stiker nama yang dicetak, bukan ditulis tangan.
Di dinding, papan harga ditulis dengan kapur warna-warni. Ratri membacanya, dan jantungnya mencelos. Harganya separuh dari yang dibayar keluarga-keluarga kepada ibunya.
Ia berdiri di depan kaca terlalu lama. Pintu ruko terbuka dan bel kecil di atasnya berdenting.
"Rat? Ratri, kan?"
Ratri menoleh. Seorang anak perempuan berdiri di ambang pintu, memakai celemek biru muda yang kebesaran dengan tulisan Wangi Kilat di dadanya, memegang setumpuk plastik bening.
Rambutnya dikepang dua.
"Kamu mau laundry?" tanya Dita, tersenyum lebar seperti biasa. "Ini laundry Mamaku, baru buka. Bagus, kan? Mamaku lagi cari pelanggan banyak-banyak. Kemarin dapat dokter, lho."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!