🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Rapor untuk Ibu
Episode 1 dari 2

Cap Jempol di Kolom Tanda Tangan

Rapor untuk Ibu · 26 Okt 2026 · 6 menit baca

Setiap pembagian rapor, Ratri selalu berharap ibunya tidak datang.

Bukan karena malu pada pekerjaan ibunya. Semua orang di kampungnya di dekat Pantai Alam Indah, Tegal, tahu Bu Warsih adalah buruh cuci. Ia mencuci untuk enam keluarga di perumahan dekat jalan raya, setiap hari dari pagi sampai sore, dan menjemur cucian mereka di tali-tali panjang di halaman rumah petak mereka yang sempit. Ratri tidak malu soal itu. Ibunya selalu wangi sabun dan tangannya selalu hangat.

Yang membuat Ratri malu adalah cap jempol.

Di kolom Tanda Tangan Orang Tua/Wali di rapor Ratri, sejak kelas satu, selalu ada cap jempol berwarna ungu. Ibunya meminjam bantalan tinta dari meja wali kelas, menekan ibu jarinya, lalu menempelkannya di kertas dengan hati-hati, seperti menempel perangko.

Waktu kelas satu dan dua, tidak ada yang peduli. Tapi sekarang Ratri sudah kelas empat, dan semester lalu, Dita, teman sebangkunya yang rambutnya selalu dikepang dua, melihat rapor itu.

"Kok mamamu jempol, Rat? Mamamu tidak bisa tanda tangan?"

Dita tidak bermaksud jahat. Ia benar-benar bertanya. Tapi pertanyaan itu terdengar oleh tiga anak lain, dan selama seminggu sesudahnya, setiap kali Ratri lewat, ada yang menirukan gerakan menekan jempol ke meja sambil tertawa.

Ratri tidak pernah cerita pada ibunya.


Malam itu, tiga hari sebelum pembagian rapor semester ganjil, Ratri membantu ibunya melipat cucian di ruang depan. Lampu bohlam di atas mereka berkedip-kedip, tergantung pada kabel yang dililitkan di paku. Tumpukan baju bersih dari enam keluarga dipisahkan dalam enam keranjang plastik, masing-masing diberi kertas kecil bertuliskan nama dan alamat.

Ratri yang menulis kertas-kertas itu. Sejak kelas dua, ibunya selalu memintanya. "Tulisanmu bagus, Nduk," kata ibunya. "Tulisan Ibu jelek."

Malam itu, Ratri mengambil kertas untuk keranjang keluarga Pak Haryo, dan berhenti.

Di bawah tumpukan kertas kosong, ada beberapa lembar nota bekas dari keluarga-keluarga itu. Nota yang biasanya diselipkan di saku baju kotor, berisi catatan: kemeja putih jangan diperas, celana kain setrika lipatan. Selama ini Ratri yang membacakan catatan-catatan itu untuk ibunya. Ia pikir ibunya cuma lelah atau matanya rabun.

Tapi malam ini, di balik salah satu nota, ada sesuatu yang lain. Tulisan pensil yang gemetar, besar-besar, seperti tulisan anak TK. Huruf-huruf yang ditulis berulang-ulang, bengkok, sebagian dihapus dan ditulis ulang:

W A R S I H

W A R S I H

W A R S I

Di bawahnya, tulisan yang lebih kecil, berantakan: R A T R I.

Ratri menatap kertas itu lama.

"Bu," katanya pelan. "Ini tulisan Ibu?"

Bu Warsih yang sedang melipat seprai berhenti. Ia melihat kertas di tangan anaknya, dan wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ratri melihat ibunya malu.

"Itu cuma corat-coret," kata ibunya cepat, mengulurkan tangan untuk mengambil kertas itu.

Ratri tidak memberikannya.

"Ibu tidak bisa baca," katanya. Bukan pertanyaan.

Lama sekali, Bu Warsih tidak menjawab. Ia meletakkan seprai yang setengah terlipat di pangkuannya, lalu menatap tangannya sendiri, tangan yang keriput karena sabun dan air setiap hari.

"Ibu tidak sekolah, Nduk," katanya akhirnya. Suaranya pelan sekali. "Mbah Putri tidak punya uang. Ibu kerja sejak umur sembilan, bantu cuci baju di rumah orang. Umur segini," ia menunjuk Ratri, "Ibu sudah bisa menyetrika kemeja juragan. Tapi tidak bisa menulis nama sendiri."

"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"

"Karena kamu pintar." Bu Warsih tersenyum, tapi matanya basah. "Ibu takut kamu malu punya ibu yang bodoh."

Ratri ingin bilang, aku memang malu. Ingin bilang soal Dita, soal anak-anak yang menirukan gerakan jempol, soal seminggu yang terasa sangat panjang semester lalu. Tapi melihat ibunya, melihat tulisan gemetar di kertas nota yang ditulis diam-diam di malam hari, ia tidak bisa mengatakan apa-apa.

Jadi ia mengambil pensil dari tasnya, membalik kertas nota itu ke sisi yang masih kosong, dan menuliskan huruf W besar-besar.

"Mulai dari sini, Bu," katanya. "Ikuti garisnya pelan-pelan. Seperti melipat baju."


Mereka belajar tiga malam berturut-turut, di bawah lampu bohlam yang berkedip, di antara keranjang-keranjang cucian.

Ratri menulis huruf di atas, ibunya menebali di bawah. W, A, R, S, I, H. Ibunya selalu salah di huruf S, menulisnya terbalik seperti angka dua yang patah. Ratri mengajarinya membayangkan ular yang sedang belok. Ibunya tertawa, lalu mencoba lagi, dan lagi, dan lagi.

Malam kedua, Ratri mengajari ibunya membaca kertas-kertas nama di keranjang cucian. PAK HARYO. BU NOVI. DOKTER ANTON. Ibunya mengeja pelan, menunjuk huruf demi huruf dengan jari yang masih wangi sabun.

"Dok-ter. An-ton." Bu Warsih menatap kertas itu, lalu menatap anaknya. "Nduk. Ibu baca."

"Ibu baca," ulang Ratri, dan entah kenapa matanya ikut panas.

Malam ketiga, malam sebelum pembagian rapor, Ratri tidak mengajari huruf baru. Ia mengambil selembar kertas putih bersih dari buku tulisnya dan menggambar sebuah kotak, persis seperti kolom tanda tangan di rapor. Di bawahnya ia menulis: Tanda Tangan Orang Tua/Wali.

"Ibu latihan di sini," katanya.

Bu Warsih memegang pensil itu lama. Tangannya gemetar. Ia menulis W. Lalu A. Lalu R. Huruf S-nya masih sedikit terbalik. Lalu I. Lalu H.

WARSIH.

Hurufnya besar-besar dan tidak sama tinggi, dan terlalu besar untuk kotak itu sampai ujung huruf H keluar garis. Tapi itu nama. Nama ibunya. Ditulis oleh tangan ibunya sendiri.


Pembagian rapor berlangsung di kelas empat B, pukul delapan pagi. Orang tua duduk di bangku-bangku murid yang terlalu kecil untuk mereka, dipanggil satu per satu ke meja Bu Endang, wali kelas.

"Ibu Warsih, orang tua Ratri."

Bu Warsih berdiri. Ia memakai kebaya terbaiknya, warna hijau pupus yang sudah agak pudar, dan rambutnya disanggul rapi. Ratri duduk di bangku paling belakang dengan anak-anak lain, jantungnya berdebar.

Bu Endang membuka rapor, menjelaskan nilai-nilai Ratri, memuji tulisannya yang rapi dan nilai bahasa Indonesianya yang tertinggi di kelas. Lalu seperti biasa, ia menggeser bantalan tinta ungu ke arah Bu Warsih.

Bu Warsih tidak mengambilnya.

Ia membuka tas kain kecilnya dan mengeluarkan sebuah pulpen. Pulpen biasa, warna biru, yang Ratri belikan kemarin dengan uang jajannya sendiri.

Kelas menjadi sunyi. Bu Endang menatap pulpen itu, lalu menatap Bu Warsih, lalu menatap Ratri di bangku belakang. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggeser bantalan tinta itu kembali ke pinggir meja.

Bu Warsih membungkuk di atas rapor. Pelan, sangat pelan, ia menulis di kolom tanda tangan. W. A. R. S. I. H.

Huruf S-nya tidak terbalik kali ini.

Ketika ia menegakkan badan, Bu Endang tersenyum dan, tanpa disangka-sangka, bertepuk tangan pelan. Seorang ayah di bangku depan ikut bertepuk tangan. Lalu seorang ibu. Lalu, dari bangku belakang, Dita, teman sebangku Ratri, yang kepangnya bergoyang-goyang ketika ia ikut bertepuk tangan paling keras.

Ratri tidak bertepuk tangan. Ia tidak bisa. Ia sedang sibuk menyeka matanya dengan ujung lengan seragam.


Sore itu, di halaman rumah petak mereka, di antara tali-tali jemuran yang penuh cucian, Bu Warsih menulis kertas-kertas nama untuk keranjang cucian sendiri. Tulisannya masih besar-besar dan miring, dan ia butuh waktu lama untuk setiap nama. Tapi ia menulisnya sendiri.

Di keranjang terakhir, di bawah nama DOKTER ANTON, ia menambahkan sesuatu dengan huruf yang lebih kecil, mengeja sendiri dengan bibir yang bergerak pelan:

Kemeja putih. Jangan diperas.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Laundry Kiloan Rumahan

Laundry kiloan dibutuhkan setiap hari oleh anak kos, mahasiswa, dan pekerja. Tetapi laundry yang bertahan bukan yang mesinnya paling mahal, melainkan yang tarifnya dihitung, cucian...

Rp25.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu