Sandal Baru di Teras Masjid
Setiap Jumat siang, setelah imam mengucap salam terakhir dan jamaah berhamburan keluar, Mang Ujang selalu bersiap menerima keluhan yang sama.
"Mang, sandal saya hilang."
"Mang, sandal saya ketuker."
"Mang, ini sandal siapa? Saya cuma lihat satu."
Sudah dua puluh tahun Mang Ujang menjadi marbot di masjid kampung di pinggir kota Garut itu, masjid bercat hijau dengan menara kecil dan bedug tua di serambi. Ia sudah kebal terhadap urusan sandal. Ia bahkan menyimpan sekardus sandal tak bertuan di gudang, hasil puluhan Jumat yang penuh tukar-menukar tidak sengaja.
Karena itu, ketika Haji Odang, jamaah paling tua di masjid itu, menghampirinya suatu Jumat dengan wajah bingung, Mang Ujang sudah siap dengan jawaban baku.
"Hilang, Ji? Coba cek di kardus gudang dulu."
"Bukan hilang, Jang," kata Haji Odang, mengangkat sepasang sandal di tangannya. "Ini. Ini bukan sandal saya. Sandal saya yang talinya sudah disambung kawat. Ini baru."
Mang Ujang memeriksanya. Sandal kulit cokelat tua, model selop sederhana, jahitannya rapi, solnya masih kaku. Modelnya persis seperti sandal Haji Odang yang biasa ia lihat setiap subuh, yang talinya disambung kawat dan bagian tumitnya sudah tipis sekali. Tetapi ini baru. Aroma kulitnya masih tajam.
"Mungkin ada yang ketuker, Ji. Nanti juga ada yang balikin."
Tidak ada yang mengembalikan. Seminggu kemudian, sandal Mak Iyah, nenek yang setiap Jumat datang dengan cucunya, mengalami nasib yang sama. Sandal jepitnya yang tali kirinya selalu lepas hilang, dan di tempatnya ada sandal kulit perempuan berwarna merah bata, model jepit, jahitan rapi. Jumat berikutnya giliran Pak Endang, tukang becak yang sandalnya sudah bolong di tumit.
Kampung mulai ramai membicarakannya. Ada yang menyebutnya rezeki Jumat. Ada yang bilang itu ulah orang kaya yang malu bersedekah terang-terangan. Ada juga yang khawatir.
"Hati-hati, Jang," kata Ustaz Hilman, imam masjid. "Kadang orang memberi sesuatu karena mau minta sesuatu. Kita belum tahu niatnya."
Mang Ujang mengangguk. Ia tidak khawatir, tetapi ia penasaran. Dan seperti biasa, ketika penasaran, ia mulai memperhatikan.
Ia memperhatikan sandal-sandal yang diganti. Semuanya milik jamaah yang sudah tua atau yang hidupnya pas-pasan. Semuanya sandal yang memang sudah rusak: tali disambung, sol berlubang, jahitan lepas. Tidak ada sandal bagus yang ditukar.
Ia memperhatikan sandal-sandal penggantinya. Semuanya dari kulit asli, dan Garut terkenal dengan kulitnya. Semuanya dibuat dengan model yang meniru sandal lama pemiliknya, seolah-olah si pembuat sudah lama memperhatikan sandal itu. Dan pada bagian dalam tali, kecil sekali, ada jahitan berbentuk huruf K dari benang cokelat muda.
Ia memperhatikan waktunya. Pertukaran selalu terjadi saat salat Jumat, ketika teras masjid penuh sandal dan semua orang ada di dalam. Siapa pun pelakunya, ia harus berada di teras saat orang lain sedang salat, atau keluar paling awal.
Mang Ujang berdiri di serambi setiap Jumat setelah itu, sambil pura-pura merapikan karpet. Ia memperhatikan siapa yang masuk paling akhir dan siapa yang keluar paling dulu. Kebanyakan wajahnya ia kenal. Anak-anak muda yang terlambat. Pedagang pasar yang buru-buru. Pak RT yang selalu ditelepon.
Tetapi ada satu orang yang menarik perhatiannya: seorang lelaki berusia empat puluhan yang selalu salat di saf paling belakang, dekat pintu. Ia jarang bicara dengan siapa pun, datang tepat sebelum khutbah, dan selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan masjid, lama setelah yang lain pulang. Mang Ujang mengenalnya samar-samar: Kang Karim, yang beberapa tahun lalu membuka usaha kecil membuat sandal kulit di rumahnya di gang belakang pasar.
Mang Ujang ingat sesuatu yang lain. Setahun lalu, Kang Karim pernah datang ke masjid pada malam hari, bukan untuk salat, tetapi untuk duduk lama di serambi. Waktu itu Mang Ujang menemaninya minum kopi. Kang Karim bercerita bahwa usahanya hampir bangkrut. Toko-toko tidak mau lagi menerima sandalnya karena harganya kalah murah dengan sandal pabrik. Utangnya menumpuk. Ia bilang ia sudah tidak tahu harus berdoa apa lagi.
Mang Ujang waktu itu hanya bisa berkata, "Coba saja jual sendiri, Kang. Lewat ponsel. Anak saya jualan kerupuk lewat ponsel, laku."
Ia sudah lupa percakapan itu sampai ia melihat huruf K kecil di tali sandal Haji Odang.
Jumat berikutnya, Mang Ujang tidak berdiri di serambi. Ia salat di saf paling belakang, tepat di sebelah Kang Karim. Ketika imam memulai rakaat pertama, ia merasakan lelaki di sebelahnya bergerak sedikit, seperti menahan sesuatu di balik sarung. Setelah salam, Kang Karim tidak langsung berdiri. Ia berzikir lama, sampai sebagian besar jamaah keluar.
Lalu ia berdiri, berjalan ke teras, dan berhenti di depan deretan sandal. Dari dalam tas kain yang ia sembunyikan di balik sarung, ia mengeluarkan sepasang sandal kulit hitam, model sandal gunung dengan tali perekat. Ia meletakkannya di samping sepasang sandal gunung butut yang perekatnya sudah tidak lengket lagi, lalu memasukkan yang butut itu ke dalam tas.
"Punya Pak Endang?" tanya Mang Ujang pelan dari belakang.
Kang Karim membeku. Lalu ia menoleh, dan wajahnya merah sampai ke telinga.
"Mang Ujang," katanya. "Jangan bilang siapa-siapa."
Mereka duduk di serambi, di dekat bedug tua, seperti setahun lalu. Kali ini Kang Karim yang bercerita lebih banyak.
Setelah malam itu, katanya, ia benar-benar mencoba berjualan lewat ponsel. Ia belajar memotret sandal di dekat jendela, menulis keterangan, membalas pesan pembeli satu per satu sampai larut malam. Bulan pertama hanya laku tiga pasang. Bulan ketiga, dua puluh. Sekarang ia punya dua karyawan, tetangga sendiri, dan pesanan datang dari Bandung sampai Makassar.
"Waktu usaha saya hampir habis, saya bernazar," katanya. "Kalau Allah kasih jalan, saya mau ganti sandal-sandal jelek di masjid ini, satu per satu. Karena di sinilah saya duduk waktu tidak tahu harus ke mana. Dan karena sandal butut itu yang setiap Jumat saya lihat di teras, waktu saya sendiri tidak punya uang beli sandal baru."
"Kenapa sembunyi-sembunyi, Kang?"
"Nazar itu urusan saya dengan Allah, Mang. Kalau semua orang tahu, nanti saya malah bangga. Nanti niatnya berubah." Ia menunduk, memeluk tas berisi sandal butut Pak Endang. "Sandal-sandal lama saya perbaiki di rumah, lalu saya kirim ke pesantren di kampung istri saya. Masih bisa dipakai lama kalau dijahit ulang."
"Huruf K di tali itu?"
Kang Karim tersenyum malu. "Kebiasaan, Mang. Semua sandal buatan saya ada jahitan itu. Saya tidak sadar itu bisa jadi petunjuk."
Mang Ujang tertawa pelan. Lalu ia menepuk bahu lelaki itu.
"Rahasiamu aman, Kang," katanya. "Tapi saya mau minta satu hal."
"Apa, Mang?"
Mang Ujang menunjuk kakinya sendiri. Sandal jepit hijaunya sudah tipis, talinya disambung dengan karet gelang, dan ujung jempolnya menyembul keluar dari sol yang retak.
"Saya juga jamaah masjid ini, kan?"
Jumat berikutnya, Mang Ujang menemukan sepasang sandal kulit cokelat di depan pintu gudang, model jepit, dengan jahitan kecil berbentuk huruf K di bagian dalam talinya. Di sampingnya terselip secarik kertas bertuliskan: Untuk marbot yang tidak pernah capek mengurus sandal orang lain.
Kampung itu tidak pernah tahu siapa "pencuri sandal terbalik" yang dermawan itu. Teras masjid, sedikit demi sedikit, dipenuhi sandal kulit yang rapi. Dan setiap kali ada jamaah baru yang mengeluh sandalnya hilang, Mang Ujang selalu menjawab dengan senyum yang sulit dijelaskan:
"Sabar, Pak. Kadang yang hilang di masjid ini kembali dalam keadaan lebih baik."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!