Ketukan Pukul Dua
Tok. Tok. Tok.
Pak Jamal membuka mata. Jam dinding bergambar kaligrafi di kamar menunjukkan pukul dua lewat tujuh menit. Di sebelahnya, Bu Ida menarik selimut sampai ke kepala dan bergumam sesuatu yang terdengar seperti "IGD buka lagi."
Ia menyeret sandal ke pintu samping dan membuka gerendelnya. Di luar berdiri seorang lelaki berkaus partai yang sudah pudar, rambutnya mencuat ke segala arah.
"Pak Jamal, maaf, darurat."
"Popok? Obat? Susu?"
"Cabai rawit, Pak." Lelaki itu menelan ludah. "Satu biji saja. Istri saya hamil empat bulan. Dia terbangun, katanya kalau tidak makan sambal sekarang juga, anaknya nanti ileran."
Pak Jamal memandang lelaki itu lama. Lalu ia masuk ke dapur, mengambil lima biji cabai rawit dari kulkas Bu Ida, dan menyerahkannya.
"Bawa lima. Kalau anaknya kembar, jaga-jaga."
Sejak spanduk dengan coretan spidol itu beredar di grup warga, pintu samping Kelontong Pak Jamal menjadi pintu paling terkenal di kelurahan. Masalahnya, tidak semua orang membaca tulisan popok, obat, susu bayi dengan teliti.
Dalam tiga minggu, pintu itu sudah diketuk untuk alasan-alasan berikut.
Kartu remi, karena ronda malam RT 04 bosan main tebak-tebakan.
Kertas krep merah, karena seorang anak SD baru ingat bahwa prakarya membuat bunga harus dikumpulkan pukul tujuh pagi, dan ibunya berdiri di belakangnya dengan wajah orang yang ingin menjual anaknya ke sirkus.
Lem tikus, karena seekor tikus sebesar anak kucing sedang berdiri di atas rice cooker milik keluarga Pak Sinaga dan menatap mereka dengan sombong.
"Numpang cas ponsel," dari seorang pemuda yang ternyata tinggal dua rumah dari situ dan listriknya diputus karena lupa bayar.
Dan, yang paling tidak masuk akal, seorang nenek yang mengetuk pukul tiga pagi untuk bertanya apakah Pak Jamal tahu jam berapa sekarang, karena jam di rumahnya mati.
"Pintu samping kita ini sudah jadi IGD, posko ronda, dan kantor informasi sekaligus," kata Bu Ida di meja sarapan, menuang teh untuk suaminya yang matanya merah seperti biji saga. "Pak, kau janji tidak begadang lagi."
"Aku tidak begadang. Aku tidur. Cuma terbangun berkali-kali."
"Itu namanya begadang yang dicicil."
Raffi, yang biasanya ikut meledek ayahnya, pagi itu hanya diam. Matanya juga merah. Pak Jamal memperhatikan bahwa beberapa minggu terakhir, lampu kamar anaknya masih menyala lewat tengah malam, dan setiap kali ia mengetuk, terdengar laptop ditutup buru-buru.
"Main gim?" tanya Pak Jamal.
"Belajar, Yah."
"Belajar apa jam satu malam?"
"Belajar hal yang penting," jawab Raffi, lalu mengambil roti dan pergi ke sekolah sebelum ditanya lagi.
Ketukan yang paling aneh datang pada Kamis malam, pukul dua lewat tiga puluh.
Di depan pintu samping berdiri seorang lelaki muda berkemeja seragam biru dengan papan nama di dada. Pak Jamal mengenal seragam itu. Seluruh kelurahan mengenal seragam itu. Itu seragam minimarket di ujung jalan, minimarket yang membuat Pak Jamal memasang spanduk kuning dua meter.
Papan namanya bertuliskan: FIKRI — KEPALA TOKO.
"Selamat malam, Pak," katanya sopan. Wajahnya seperti orang yang sedang menyerahkan diri ke kantor polisi. "Bapak ada uang receh?"
"Receh?"
"Pecahan dua ribu, lima ribu. Mesin kasir kami tidak ada kembalian. Bank baru buka jam delapan. Ada tiga sopir truk yang mau bayar pakai uang seratus ribu dan saya tidak bisa kasih kembalian." Ia menyodorkan dua lembar seratus ribuan. "Saya tukar dua ratus ribu, Pak. Kalau boleh."
Pak Jamal berdiri di ambang pintu dengan sarung dan kaus oblong, memandang kepala toko minimarket yang 24 jam sungguhan itu, yang meminta tolong kepada kelontong yang 24 jamnya dicoret pakai spidol.
Ia berusaha keras untuk tidak tersenyum. Ia gagal.
"Masuk dulu," katanya. "Bapak sudah makan?"
Fikri ternyata kembali malam berikutnya. Kali ini tidak menukar uang. Ia membeli sebungkus kacang dan duduk di bangku depan toko bersama dua satpam kompleks, Bang Tigor dan Pak Mus, yang sejak malam itu belum pernah sekali pun menang catur melawan Pak Jamal.
Fikri juga kalah. Tetapi ia kalah dengan cara yang membuat Pak Jamal curiga ia sengaja.
Sambil memindahkan bidak, Fikri bercerita. Umurnya dua puluh delapan. Asalnya dari Bukittinggi. Ayahnya dulu punya kedai kelontong di dekat Jam Gadang, kecil, berjendela kayu, dengan stoples-stoples kerupuk berjejer di depan.
"Tutup waktu saya SMP," katanya, matanya pada papan catur. "Ada minimarket buka di seberangnya."
Bang Tigor dan Pak Mus berhenti mengunyah kacang.
"Terus kau malah kerja di minimarket?" tanya Pak Jamal pelan.
Fikri tertawa kecil, tawa yang tidak terlalu senang. "Gajinya tetap, Pak. Adik saya tiga. Hidup itu kadang lucunya keterlaluan."
Ia memindahkan menterinya ke tempat yang sangat bodoh. Pak Jamal memakannya dengan kuda. Tidak ada yang tertawa.
Seminggu kemudian, Fikri datang lagi, tetapi kali ini ia tidak membawa kacang. Ia tidak memakai seragam. Ia membawa sebuah map plastik bening, dan di dalamnya ada amplop cokelat besar berkop surat sebuah perusahaan di Jakarta.
"Ini bukan dari saya, Pak," katanya sebelum menyerahkannya. "Saya cuma disuruh antar. Saya sudah coba bilang ke atasan bahwa Bapak pasti tidak mau. Mereka tetap suruh antar."
Pak Jamal membuka amplop itu di bawah lampu neon pintu samping. Bu Ida, yang terbangun karena suara orang, berdiri di belakangnya dengan daster dan rambut digulung.
Isinya surat penawaran. Perusahaan itu ingin menyewa tanah dan bangunan Kelontong Pak Jamal selama sepuluh tahun, untuk dijadikan perluasan minimarket: lahan parkir, gudang, dan mesin anjungan tunai. Harga sewanya tertulis di halaman kedua.
Bu Ida membaca angka itu. Lalu membacanya lagi. Lalu menghitung nolnya dengan ujung jari, satu per satu, bibirnya bergerak tanpa suara.
"Pak," katanya. Hanya itu.
"Satu lagi, Pak," kata Fikri, suaranya mengecil. "Kalau Bapak menolak, mereka sudah siapkan rencana kedua. Ruko kosong di sebelah kanan toko Bapak. Mereka mau buka cabang di situ. Tepat di sebelah."
Pak Jamal tidak berkata apa-apa. Ia memandang amplop di tangannya, lalu memandang ke dalam rumah, ke pintu kulkas di dapur. Di pintu kulkas itu, ditempel dengan magnet berbentuk durian, ada brosur yang dibawa Raffi bulan lalu: brosur penerimaan mahasiswa baru, dengan rincian biaya kuliah yang angka-angkanya membuat Pak Jamal tidak bisa tidur meski tidak ada yang mengetuk pintu.
Angka di surat penawaran itu cukup untuk membayar semuanya. Dan lebih.
Di lantai atas, lampu kamar Raffi masih menyala.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!