Sopir yang Pernah Jadi Mandor
Terminal Pulo Gebang lebih mirip bandara daripada terminal yang Yusuf bayangkan. Lantainya mengilap, papan elektroniknya berkedip menampilkan nama-nama kota, dan loket bus berderet dengan logo warna-warni. Tetapi bau minyak angin, suara calo yang setengah berbisik, dan anak-anak tidur di atas tas tetap sama dengan terminal mana pun di negeri ini.
Ia membeli tiket bus malam jurusan Surabaya di loket yang paling sepi antreannya. Bukan yang paling murah, bukan yang paling mewah. Tengah-tengah, seperti hidupnya selama dua belas tahun ini.
Kardus tidak muat di kabin. Seorang kenek bertopi terbalik mengangkatnya ke bagasi bawah tanpa ditanya, menyelipkannya di antara karung beras dan koper merah muda bergambar kartun.
"Tenang, Mas. Kardusnya aman. Saya hafal yang mana, yang talinya biru."
Sebelum naik, ia sempat mengirim pesan ke Rian: "Sudah di Jakarta. Lanjut bus malam ini." Balasan Rian datang cepat, sebuah foto pintu galangan kapal dengan keterangan "Tes besok. Doakan." Yusuf mengetik doa yang panjang, lalu menghapusnya dan menggantinya dengan dua kata: "Pasti bisa." Ia tidak yakin pada siapa sebenarnya kalimat itu ditujukan.
Yusuf duduk di kursi nomor sembilan, dekat jendela, di belakang sopir. Bus berangkat menjelang magrib, merayap keluar Jakarta di antara lampu rem yang merah memanjang seperti sungai. Di sebelahnya duduk seorang mahasiswa yang langsung tertidur dengan earphone di telinga.
Sopirnya lelaki berumur lima puluhan, berkumis tebal, memakai kemeja batik lengan pendek yang disetrika rapi. Di dasbor tertempel foto dua anak berseragam wisuda dan sebuah stiker bertuliskan "Hati-hati, keluarga menunggu di rumah". Namanya terbordir kecil di saku: Darmo.
Lepas tengah malam bus berhenti di sebuah rumah makan di jalur pantura. Para penumpang turun dengan wajah setengah sadar, antre kamar mandi, lalu duduk menghadap piring nasi rames yang termasuk dalam harga tiket. Yusuf mengambil teh manis dan duduk di bangku plastik di luar, dekat parkiran, tempat angin sedikit lebih bersahabat.
Pak Darmo menyusul dengan segelas kopi hitam dan sebatang rokok yang tidak dinyalakan.
"Sudah berhenti, Mas. Tapi tangan masih kangen pegang," katanya, memutar rokok itu di antara jari. "Turun di mana?"
"Surabaya, Pak. Terus lanjut ke Banyuwangi, nyeberang ke Bali, terus Lombok."
"Wah, jalur panjang. Mudik?"
Yusuf ragu sebentar, lalu memutuskan jujur. Mungkin karena tengah malam, mungkin karena orang asing lebih mudah diajak jujur daripada orang tua sendiri.
"Kena PHK, Pak. Pulang kampung."
Pak Darmo mengangguk tanpa raut kasihan, dan itu membuat Yusuf lega.
"Saya dulu mandor di pabrik tekstil di Tangerang. Dua puluh tiga tahun." Ia menyeruput kopinya. "Umur empat puluh lima, pabrik pindah ke Jawa Tengah. Yang muda dibawa, yang tua dikasih pesangon."
"Terus Bapak jadi sopir?"
"Nggak langsung. Setahun pertama saya malu keluar rumah. Tetangga tanya, 'Libur, Pak Darmo?' Saya jawab iya. Setahun saya 'libur'." Ia tertawa. "Istri saya yang akhirnya marah. Dia bilang, 'Pak, malu itu nggak bayar SPP anak.'"
Yusuf ikut tertawa, tapi tawanya terhenti di tenggorokan. Kalimat itu terlalu mirip dengan sesuatu yang belum berani ia katakan pada dirinya sendiri.
"Kenapa jadi sopir bus, Pak?"
"Karena saya bisa nyetir, dan saya bisa ngatur orang." Pak Darmo menunjuk busnya yang berkilat di bawah lampu parkiran. "Jadi mandor itu ternyata mirip jadi sopir. Ngatur jadwal, jaga barang orang, pastikan semua sampai dengan selamat. Bedanya, di pabrik yang saya jaga benang. Di sini yang saya jaga orang."
Ia menghabiskan kopinya, lalu menatap Yusuf dengan pandangan yang mirip pandangan Mak Ijah di kapal, pandangan orang yang sudah pernah melewati jalan yang sedang Yusuf lewati.
"Kamu kerja apa di pabrik?"
"Quality control, Pak."
"Berarti kamu biasa lihat barang rusak, terus cari kenapa rusaknya."
"Iya."
"Nah, jangan lupa periksa dirimu sendiri juga pakai cara itu." Pak Darmo berdiri, menepuk lututnya. "Yang rusak itu pabriknya, bukan kamu. Catat itu."
Bus melaju lagi menembus malam. Di luar jendela, lampu-lampu kota kecil lewat silih berganti: Cirebon, Brebes, Tegal, nama-nama yang selama ini hanya ia lihat di papan petunjuk jalan di televisi. Mahasiswa di sebelahnya mendengkur halus.
Yusuf membuka ponsel dan, untuk pertama kalinya sejak menerima amplop cokelat, membuka aplikasi catatan. Ia mengetik judul: "Yang saya bisa." Di bawahnya ia menulis pelan-pelan, menghapus, menulis lagi.
Memeriksa barang dan menemukan cacat. Mencatat dengan rapi. Mencari penyebab masalah, bukan cuma menyalahkan. Bekerja malam tanpa mengeluh. Mengemas barang supaya tidak rusak di jalan.
Ia berhenti di baris terakhir. Kalimat itu muncul karena teringat kardus di bagasi, tetapi setelah ditulis, ia sadar memang begitu: selama empat tahun terakhir di pabrik, ia sering diminta membantu bagian pengiriman, memastikan setiap boks berisi komponen dikemas dengan busa yang benar, diberi label, dan dicatat nomor lotnya. Pekerjaan kecil yang dulu ia anggap membosankan.
Di bawah daftar itu ia menambahkan satu judul lagi: "Yang saya tidak tahu." Daftarnya lebih panjang. Ia tidak tahu harga gabah tahun ini. Ia tidak tahu apakah kebun bawang Amaq masih ada. Ia tidak tahu apa yang dikerjakan teman-teman SD-nya sekarang. Ia bahkan tidak tahu apakah adiknya, Hana, sudah lulus SMA atau belum. Ia menatap daftar kedua itu lama, lalu memutuskan tidak menghapusnya. Barang yang belum diperiksa, pikirnya, bukan berarti barang rusak.
Ia teringat lipatan kertas dari Mak Ijah. Belum waktunya dibuka, kata Mak Ijah. Kalau sudah sampai. Yusuf menyentuh saku kemejanya, memastikan kertas itu masih di sana, lalu menyandarkan kepala ke kaca yang dingin.
Menjelang subuh bus memasuki Surabaya. Langit di timur berwarna jingga pucat, dan jalan tol dipenuhi truk-truk yang membawa barang ke pelabuhan. Pak Darmo menurunkan para penumpang di terminal Bungurasih satu per satu, menyebut nama mereka dari daftar dengan suara yang masih segar seolah ia tidak menyetir semalaman.
Kenek bertopi terbalik menurunkan kardus bertali biru dan menyerahkannya dengan dua tangan.
"Kan, Mas. Aman."
Pak Darmo melambai dari balik kemudi. "Hati-hati di jalan, Mas Yusuf. Keluarga menunggu di rumah."
Yusuf melihat stiker di dasbor itu sekali lagi sebelum bus berbelok pergi. Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Terdengar seperti alamat.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!