🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Episode 1 dari 1

Gelas Kedua di Meja Dekat Jendela

Gelas Kedua di Meja Dekat Jendela · 20 Okt 2026 · 6 menit baca

Warung Bu Yuyun hanya punya enam meja, dan yang paling diincar semua orang adalah meja dekat jendela, karena dari situ laut terlihat seperti lukisan yang terus bergerak. Kapal-kapal kayu bercat biru dan merah keluar dari muara sebelum subuh, lalu kembali menjelang siang dengan geladak penuh ikan dan burung camar yang berputar di atasnya.

Sejak tiga bulan lalu, meja itu tidak pernah diincar siapa pun lagi pada pukul enam pagi. Semua orang tahu meja itu milik Pak Amri.

Pak Amri datang setiap pagi pukul enam kurang lima. Ia bertubuh kurus, rambutnya putih dipotong cepak, selalu memakai kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku dan membawa tas selempang kain kumal. Ia duduk di meja dekat jendela, menghadap laut, lalu memesan dengan kalimat yang sama setiap hari.

"Dua kopi, Yun. Satu biasa, satu gulanya sedikit saja."

Bu Yuyun membuatkan keduanya. Kopi pertama diminum Pak Amri pelan-pelan sambil memandang laut. Kopi kedua diletakkan di seberang meja, di depan kursi kosong, dan dibiarkan sampai dingin. Pukul tujuh lewat sedikit, Pak Amri berdiri, membayar dua gelas, mengangguk kepada Bu Yuyun, lalu pergi. Gelas kedua tetap penuh.

Hari Jumat, ia tidak pernah datang.

Di warung sekecil itu, kebiasaan seaneh itu tidak mungkin tidak dibicarakan.

"Pasti buat istrinya yang sudah meninggal," bisik Bang Udin, tukang parkir yang ngopi di meja dekat pintu. "Orang tua kan begitu. Kangen."

"Istrinya masih hidup," sahut Mak Ros dari meja sebelah, yang tahu hampir semua hal di kampung itu. "Jualan kue di pasar. Saya beli lepat dari dia kemarin."

"Berarti buat anaknya yang merantau."

"Anaknya dua-duanya di sini. Satu guru, satu kerja di bank."

Lalu mereka beralih ke tebakan-tebakan yang lebih aneh, yang membuat Bu Yuyun harus menegur supaya tidak sampai ke telinga Pak Amri. Bu Yuyun sendiri tidak ikut menebak. Ia sudah lima belas tahun berjualan kopi, dan ia tahu satu hal tentang pelanggan tetap: mereka selalu memberi tahu sesuatu, asal kita cukup sabar memperhatikan.

Jadi ia memperhatikan.

Yang pertama ia perhatikan adalah gula. Gelas kedua selalu gulanya sedikit, setengah sendok teh saja. Orang yang meminumnya, kalau memang ada, pasti seseorang yang harus menjaga gula darahnya.

Yang kedua adalah hari. Pak Amri tidak pernah datang hari Jumat. Bu Yuyun memikirkan itu agak lama, sampai ia sadar bahwa hari Jumat juga hari ketika hampir semua kapal di muara itu tidak berangkat. Para nelayan di sini kebanyakan beristirahat pada hari Jumat, pergi salat Jumat, memperbaiki jaring, dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan Pak Amri juga tidak datang pada hari-hari ketika angin barat bertiup kencang dan bendera merah dikibarkan di pos pelabuhan. Pada hari-hari itu, kapal-kapal juga tidak berangkat.

Dengan kata lain, Pak Amri hanya datang pada hari-hari ketika kapal melaut.

Yang ketiga adalah tas selempangnya. Suatu pagi, ketika ia merogoh tas mencari uang, Bu Yuyun melihat ujung antena hitam pendek mencuat dari dalamnya. Radio genggam. Jenis yang biasa dipakai kapal-kapal kecil untuk saling memberi kabar. Pak Amri tidak pernah menyalakannya di warung, tetapi setiap kali ada kapal lewat di muara, ia meraba tasnya, seperti memastikan benda itu masih ada.

Yang keempat adalah cara ia memandang laut. Bukan memandang seperti orang yang menikmati pemandangan, tetapi seperti orang yang menghitung. Matanya selalu mengikuti satu arah: ke barat laut, ke arah kapal-kapal besar yang mencari ikan tongkol jauh di tengah.

Bu Yuyun menyusun keempat hal itu di kepalanya selama berminggu-minggu, sambil menggoreng pisang dan menyeduh kopi. Ia belum menemukan jawabannya sampai pada suatu pagi di bulan November, ketika langit di barat berwarna kelabu kehijauan dan angin datang terlalu cepat.

Pagi itu, Pak Amri tidak duduk tenang. Ia datang pukul enam kurang lima seperti biasa, memesan dua kopi seperti biasa, tetapi untuk pertama kalinya ia mengeluarkan radio genggam dari tasnya dan meletakkannya di meja. Suara berisik keluar dari pengeras suaranya, potongan-potongan percakapan dalam bahasa nelayan yang cepat: posisi, arah angin, ombak.

Pukul delapan, bendera merah naik di pos pelabuhan. Kapal-kapal kecil yang masih di dekat muara bergegas kembali. Pukul sembilan, hujan turun deras, menutupi laut dengan tirai kelabu.

Pak Amri tidak pulang pukul tujuh hari itu. Ia tetap duduk di meja dekat jendela, memegang radio dengan dua tangan, gelas kopinya sendiri sudah habis, gelas kedua dingin di depan kursi kosong.

Bu Yuyun mendekat dengan teko kopi panas. "Pak, mau ditambah?"

Pak Amri menggeleng. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, ia bicara lebih dari satu kalimat.

"Kapal Rusli belum masuk," katanya pelan. "Dia ke tongkol, jauh. Radionya tidak menjawab dari subuh."

Bu Yuyun meletakkan teko dan duduk di kursi sebelah, bukan kursi kosong di depan gelas kedua. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia sudah tahu.

"Tiga puluh tahun saya dan Rusli satu kapal," kata Pak Amri, matanya tetap ke laut. "Tahun lalu, waktu badai, saya jatuh ke laut. Rusli yang lompat menarik saya. Kaki saya patah, tidak bisa melaut lagi. Rusli masih melaut, sendirian, karena anak buahnya pindah ke kapal besar."

Ia menunjuk gelas kedua. "Di kapal dulu, setiap pagi pukul enam, kami minum kopi dari termos. Kopinya Rusli gulanya sedikit, karena gulanya tinggi. Waktu saya tidak bisa melaut lagi, saya bilang sama dia: setiap kamu melaut, saya tetap ngopi sama kamu jam enam. Kamu di sana, saya di sini. Kalau radio sampai ke sini, saya dengar kamu. Kalau tidak sampai, ya kopinya tetap saya pesan."

Hujan mengguyur atap seng. Di radio, hanya ada desis.

Bu Yuyun tidak tahu apa yang harus dikatakan, jadi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia mengambil gelas kedua yang sudah dingin, membawanya ke dapur, menuangnya ke panci kecil, menghangatkannya, lalu membawanya kembali dan meletakkannya di depan kursi kosong. Pak Amri menatapnya, lalu mengangguk pelan.

Mereka menunggu bersama. Bang Udin datang pukul sepuluh, lalu duduk diam di meja dekat pintu. Mak Ros datang pukul sebelas membawa lepat dan ikut duduk. Tidak ada yang bertanya. Semua orang memandang laut.

Pukul satu siang, radio di meja berderak.

"…Amri, Amri. Ini Rusli. Masuk muara. Mesin mati tadi, sudah hidup. Kau masih di warung?"

Pak Amri menekan tombol dengan tangan gemetar. "Masih. Kopimu dingin dua kali, Rus."

Setengah jam kemudian, seorang lelaki bertubuh besar dengan kulit legam dan jas hujan yang masih meneteskan air masuk ke warung Bu Yuyun. Ia menepuk bahu Pak Amri keras-keras, lalu duduk di kursi yang selama tiga bulan kosong, mengangkat gelas kedua, dan meminumnya sampai habis dalam tiga tegukan.

"Kopi dingin di darat," katanya sambil mengelap kumis, "lebih enak daripada kopi panas di laut sendirian."

Sejak hari itu, gelas kedua di meja dekat jendela kadang masih dibiarkan dingin, pada hari-hari ketika kapal Rusli melaut. Tetapi pada hari Jumat, ketika tidak ada kapal yang berangkat, Pak Amri tetap datang. Dan meja dekat jendela itu berisi dua lelaki tua yang menghabiskan dua gelas kopi panas, satu biasa, satu gulanya sedikit saja.

Bu Yuyun tidak pernah lagi menegur orang yang menebak-nebak. Ia hanya tersenyum, karena ia tahu bahwa di warungnya, misteri paling sederhana selalu punya jawaban paling sederhana: seseorang sedang menunggu seseorang yang lain pulang.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Suka ceritanya?

Bagikan ke teman yang mungkin juga suka.

Dari penerbit cerita ini

Minuman Kekinian dari Rumah

Es kopi susu, thai tea, dan matcha latte bisa dijual dari teras rumah dengan modal kecil. Agar rasanya selalu sama dan untungnya jelas, kamu butuh resep bertakaran pasti, HPP yang...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu