🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
📖 Kamu belum menyelesaikan episode 1. Ceritanya lebih seru jika dibaca berurutan. Baca episode 1
Episode 3 dari 3

Payung Batik di Ujung Jalan

Catatan di Balik Kartu Pinjam · 24 Okt 2026 · 5 menit baca

Warung kopi di seberang perpustakaan bernama Warung Bu Tun, meskipun yang menjaganya pada malam hari adalah anak laki-laki Bu Tun yang selalu memakai sarung dan menonton bola dari ponsel. Dewi dan Teguh duduk di bangku kayu paling ujung, menghadap pintu perpustakaan, dengan dua gelas kopi tubruk dan sepiring tahu goreng yang cepat dingin.

"Kalau kita ketahuan, alasan kita apa?" tanya Teguh.

"Kita nongkrong," jawab Dewi. "Orang Semarang boleh nongkrong di mana saja."

Jam dinding warung menunjukkan pukul sebelas, lalu pukul satu, lalu pukul tiga. Hujan gerimis datang dan pergi. Pak Sabar sesekali terlihat keluar dari pos jaga, menyorotkan senter ke halaman, lalu masuk lagi. Sekali, pukul dua lewat sedikit, ia berdiri agak lama di dekat gerbang sambil melihat ke arah jalan, seperti sedang menunggu seseorang.

"Lihat itu," bisik Teguh.

"Mungkin cuma memastikan tidak ada yang parkir sembarangan."

"Pukul dua pagi?"

Pukul empat lewat empat puluh, ketika langit mulai berwarna kelabu dan azan subuh terdengar dari masjid di belakang pasar, sebuah becak berhenti tepat di depan gerbang perpustakaan. Pengemudinya tidak turun. Dari jok penumpang turun seseorang bertubuh kecil yang memegang payung batik bermotif parang cokelat, meskipun gerimis sudah reda. Payung itu dibuka rendah, menutupi kepala dan bahu.

Orang itu berjalan pelan ke kotak pengembalian. Tangannya yang memegang buku terlihat sebentar di bawah lampu jalan: tangan yang ramping dengan gelang emas tipis. Buku itu masuk ke mulut kotak tanpa suara. Lalu orang itu kembali ke becak.

Dewi sudah berdiri sebelum menyadarinya. "Ayo."

Mereka menyeberang jalan, tetapi becak itu sudah bergerak, berbelok ke gang di samping toko emas, dan menghilang di antara deretan rumah tua. Teguh berlari sampai mulut gang, lalu berhenti dengan napas tersengal. Gang itu bercabang tiga.

"Hilang," katanya. "Becak bisa lebih cepat dari mahasiswa yang tidak pernah olahraga."

Ketika mereka kembali ke gerbang, Pak Sabar sudah berdiri di sana dengan kunci kuningan di tangan. Ia tidak tampak terkejut melihat mereka.

"Mbak Dewi, Mas Teguh. Pagi-pagi sekali."

"Pak, tadi ada becak," kata Teguh, masih terengah. "Bapak lihat pengemudinya?"

"Becak di sini banyak, Mas."

"Tapi Bapak melambai ke pengemudinya," kata Teguh. "Saya lihat dari seberang."

Pak Sabar terdiam. Ia membuka kotak pengembalian, mengeluarkan satu buku, dan menyerahkannya kepada Dewi tanpa melihat sampulnya. "Saya melambai ke semua tukang becak, Mas. Mereka teman saya minum kopi kalau malam."

Buku ketiga adalah Salah Asuhan. Kartu pinjamnya bercap 9 MAR 1983. Pesannya: Untuk N., halaman 9.

Di ruang arsip, mereka membuka halaman 9 dengan hati-hati. Kali ini bukan hanya garis pensil yang mereka temukan. Di lipatan buku terselip sekuntum melati kering, kelopaknya yang empat memanjang masih utuh meski warnanya sudah cokelat muda. Dewi mengangkatnya dengan pinset, seperti petugas museum memindahkan benda pusaka.

"Ini bukan melati dari tahun 1983," kata Teguh. "Kalau setua itu, pasti sudah hancur jadi debu."

"Jadi diselipkan baru-baru ini. Seperti garis pensilnya."

Huruf-huruf yang digarisbawahi lebih sedikit dari sebelumnya. Dewi menulisnya: D-I-S-T-A-S-I-U-N.

"Di stasiun," kata mereka berdua bersamaan.

Teguh menyusun ketiga pesan sesuai urutan kedatangan. Maaf. Aku tidak datang. Di stasiun. Lalu ia menyusunnya sesuai tanggal di kartu pinjam: 9, 11, 14 Maret. Di stasiun. Aku tidak datang. Maaf.

"Dua-duanya masuk akal," katanya. "Tapi yang kedua terasa seperti cerita lengkap."

"Seseorang berjanji bertemu N. di stasiun," kata Dewi pelan, "tapi tidak datang. Lalu minta maaf. Empat puluh tiga tahun kemudian."

Mereka diam cukup lama. Dari jendela, cahaya pagi mulai menyentuh rak-rak arsip.

"Stasiun mana?" tanya Teguh akhirnya. "Semarang punya Tawang dan Poncol."

"Tahun 1983, kalau mau pergi jauh ke arah timur atau barat, kebanyakan orang naik dari Tawang," kata Dewi. "Tapi itu cuma tebakan."

Teguh membuka laptop dan mencari arsip koran digital yang sedang ia pindai untuk skripsinya. "Kalau ada kejadian besar di Tawang bulan Maret 1983, mungkin ada beritanya. Banjir, kereta terlambat, apa saja."

Mereka menemukan satu berita kecil di halaman empat sebuah harian lokal, tanggal 21 Maret 1983: Hujan Lebat, Rob Genangi Kawasan Tawang. Sejumlah Penumpang Tertahan. Tidak ada nama, tidak ada foto. Hanya keterangan bahwa banyak penumpang terlambat naik kereta sore.

"Banjir rob," kata Dewi. "Mungkin itu sebabnya dia tidak datang."

"Atau mungkin itu sebabnya N. tidak menunggu," kata Teguh. "Kita belum tahu siapa yang tidak datang."

Sebelum berpisah, Teguh memotret melati itu di atas kertas putih, lalu menyimpannya di dalam amplop kertas minyak. "Siapa pun dia," katanya, "dia membeli melati segar, mengeringkannya, lalu menyelipkannya di halaman yang sama dengan pesan lama. Itu bukan pekerjaan satu malam."

"Mungkin dia melakukannya sambil membaca ulang semua bukunya," kata Dewi. "Satu per satu, sebelum dikembalikan."

Bayangan itu membuat ruang arsip terasa lebih sunyi dari biasanya: seseorang yang duduk sendirian di sebuah rumah di Semarang, membaca ulang buku-buku remaja yang tidak pernah ia kembalikan, mencari huruf-huruf yang dulu ia garis bawahi, lalu menebalkannya lagi supaya tidak hilang.

Ketika Dewi pulang siang itu, ia melewati pos jaga. Pak Sabar sedang menelepon dengan suara pelan, membelakangi jendela. Dewi hanya menangkap potongan kalimatnya.

"…sudah ketahuan, Mbak Las. Anak-anak itu pintar. Nanti saya…"

Pak Sabar menoleh, melihat Dewi, dan langsung menutup telepon.

"Mbak Las siapa, Pak?" tanya Dewi.

"Saudara saya, Mbak," jawab Pak Sabar. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha tersenyum.

✦ ✦ ✦
Bagaimana perasaanmu setelah episode ini?
Apakah kamu tertarik dengan cerita ini?

Beri bintang untuk “Catatan di Balik Kartu Pinjam”. Penilaianmu membantu kami menentukan cerita berikutnya.

Simpan riwayat bacamu

Buat akun gratis supaya episode terakhir, cerita yang kamu ikuti, dan penilaianmu tersimpan, lalu bisa dilanjutkan di HP maupun laptop.

Komentar pembaca 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Jangan ketinggalan episode berikutnya

Ikuti cerita ini. Kami kabari lewat email & WhatsApp saat episode baru terbit.

Daftar gratis & ikuti
Dari penerbit cerita ini

Jual Ebook Karya Sendiri

Keahlian yang sering ditanyakan orang bisa kamu kemas menjadi ebook dan dijual berkali-kali tanpa menunggu penerbit. Buku ini mengikuti satu ebook sungguhan, “Masak Hemat Anak Kos”...

Rp29.000 Lihat ebooknya
Dari penerbit cerita ini · gratis

Ebook gratis untukmu